Mengolah Air Bersih Untuk Lingkungan

 

(Media Iptek Mei 2013)

 

Pada saat terjadinya suatu bencana, ketersediaan air menjadi sesuatu yang sangat krusial. Kebutuhan akan air bersih untuk keperluan sehari-hari seperti minum, mandi, memasak, mencuci dan sebagainya sangat sulit dipenuhi ditengah-tengah keadaan bencana misalnya banjir. Dalam kondisi bencana, kebutuhan air bersih masyarakat Jakarta contohnya, bisa mencapai 60 liter per orang per hari. Sedangkan pada kondisi normal, sekitar 10 liter per orang per hari sudah cukup.       

 

Pada saat banjir, pasokan air PAM terhenti karena sebagian besar pompa distribusi air terendam, listrik pun mati ditambah bila penduduk menggunakan sumur gali, maka air sumur gali tersebut bercampur dengan air banjir. Jadi praktis yang ada hanyalah air banjir saja yang secara kualitas tidak dapat dipergunakan untuk air minum. Dengan kondisi seperti ini kebutuhan pasokan air masyarakat akan terganggu. Mereka tentunya mengandalkan bantuan dan truk-truk PDAM. Untuk keperluan minum dan masak mengandalkan air kemasan/galon yang bila dibeli dan harganya sangat tidak wajar karena sulitnya kondisi transportasi. Bagi masyarakat yang tidak mampu, ini sangat menjadi kendala. 

 

 

Pasokan air bersih yang sering terhenti ketika banjir sebenarnya bisa dipenuhi dengan mengolah air banjir menjadi air bersih melalui beberapa langkah. Prinsipnya, pengolahan air tergantung dari kualitas air yang akan diolah dan target kualitas air yang diinginkan. Kalau untuk air kotor seperti misalnya air banjir atau air sungai yang keruh, proses pengolahannya dibagi menjadi beberapa tahapan yakni pertama adalah penyaringan kasar untuk menahan sampah dan kotoran kasar lainnya. Penyaringan ini dapat menggunakan screen, filter pasir ataupun "bag filter"

 

Tahapan benikutnya dilakukan penyaringan dengan menggunakan membran dengan jenis membran filtrasi ultra. Membran mi mampu mengubah air yang tadinya keruh menjadi sangatjernih. Membran filtrasi ultra memiliki pori-pori 1/100 mikron sehingga air kotor yang melalui membran ini akan dapat menjadi sangat jernih. Namun bila air kotor tersebut mengandung garam yang rasanya asin atau payau, hasil olahan bisa jernih namun kandungan garamnya tidak akan berkurang. Secara teori membran ini mampu menyaring bakteri juga, namun untuk lebih amannya tahap pengolahan berikutnya adalah menggunakan sinar ultra violet untuk membunuh kuman. Dengan metode seperti mi dapat dihasilkan air bersih yang siap dipergunakan sebagai air masak, mencuci,mandi  dan lain sebagainya.

 

Namun masih belum disarankan untuk bisa langsung diminum. Bila diinginkan produk air hasil olahan tersebut siap untuk diminum tanpa memasak dahulu, maka perlu pengolahan lanjutan yakni proses desalinasi atau menurunkan kadar garam dengan menggunakan mebran reverse osmosis yang pori-porinya sangat kecil yakni 1/1 0000 mikron. Dengan teknologi membran ultra filtrasi dikombinasi dengan reverse osmosis, tingkat keberhasilan sampai 100 persen. Secara teori, bakteri yang ada dalam air akan tersaring sehingga aman untuk dikonsumsi. Jadi dalam proses tadi, tahapan disinfeksinya ada dua kali.

 

Mobil Pengolah Air Bersih BPPT

 

Proses pengolahan air diatas semakin mudah dilakukan dengan adanya mobil yang dapat dioperasikan ketika terjadinya bencana. BPPTtelah menggunakan mobil tersebut untuk pengoperasian bantuan air bersih maupun air siap minum. Rudi Nugroho, Kepala Bidang Lingkungan Air, Pusat Teknologi Lingkungan (PTL) BPPT, mengatakan saat bencana gempa di Bantul tahun 2006, BPPT telah mengoperasikan unit pengolah air siap minum yangditempatkan pada mobil bak terbuka. Mobil ini dapat melaju melintasi jalan yang sedikit rusak namun tidak ada banjir. Dengan adanya gempa kondisi sumur warga kualitas airnya menjadi keruh dan tercampur dengan rembesan tangki septik dikarenakan oleh retaknya beberapa bagian tanah. Dengan mengambil air sumur tadi dan mengolahnya dengan instalasi pengolah air yang ditempatkan diatas mobil tersebut, masyarakat dapat langsung mendapatkan air yang dapat lansung diminum.                                                                        
   

Sedangkan mobil BPPT yang baru-baru ini digunakan untuk bantuan air pada lokasi banjir Jakarta di Pluit, adalah menggunakan truk bak terbuka bermesin diesel. Diatas mobil ini ditempatkan alat pengolah air yang mana sistem penyambungan perpipaannya dapat dilepas dan dipasang dengan mudah. Khusus untuk air konsumsi, Pusat Teknologi Lingkungan (PTL) BPPT melengkapi alat mi dengan sterilisator pembunuh kuman yakni ultra violet. Alat yang diberi nama Ultra Filtrasi Mobil (UF mobil) tersebut mampu mengolah air banjir yang tidak bersih menjadi air bersih.

 

         

 

Penyaluran air bersih yang dilakukan oleh BPPT ada yang berpindah-pindah atau mobile dan ada yang menetap atau stationer. Warga biasanya ada yang mengambil memakai gerobak atau ada yang diantarkan langsung. Peralatan pengolahan air ini termasuk tangki dan ditempatkan di atas mobil truk diesel yang mampu menerjang banjir hingga ketinggian 1 meter. PusatTeknologi Lingkungan (PTL) BPPT melalui Program Insentif Peningkatan Kemampuan Peneliti dan Perekayasa Kementerian Ristek tahun 2012 juga telah mendayagunakan hasil litbangnya untuk masyarakat dalam bentuk aplikasi alat pengolah air bersih dan air siap minum di Kabupaten                               

 

Kotawaringin Timur di kota Sampit. Saat ini kapasitas produksi PDAM di tersebut baru berkisar 200 It per detik, kapasitas sebesar ini jelas tidak dapat mencukupi kebutuhan penduduk di sana. Sehingga Akibat dan keterbatasan pelayanan PDAM ini diperlukan suatu upaya untuk dapat memenuhi kebutuhan air bagi masyarakat yaitu dengan mengupayakan pengolahan air secara mandiri. Ada dua aplikasi hasil litbang berkaitan dengan air bersih yang diterapkan yaitu Pendayagunaan Iptek untuk sistem Pengolah Air Bersih model Pompa dan Pemanfaatan Penjernih Air Siap Minum.                     

 

Dalam pelaksanaannya, air baku untuk air bersih diambil dan air tanah dalam dan selanjutnya ditingkatkan kualitasnya agar dapat dimanfaatkan sebagai air siap minum dengan menggunakan alat penjernih air.  Penjernih air menjadi air siap minum ini menggunakan sistem penyaringan makro, mikro dan ultrafiltrasi serta seterilisasi Dengan diterapkannya dua program yang terintegrasi maka kebutuhan akan air bersih pada wilayah diluar jangkauan PDAM dapat meningkat dan diharapkan cara ini dapat dijadikan contoh dalam menyediakan air minum di tempat lainyang tidak terjangkau PDAM.

 

Mengolah Air Bersih di Lingkungan Rumah

 

Pengolahan air menjadi air bersih selain dengan sistem mobile komunal, juga bisa dilakukan oleh masyarakat secara mandiri di rumah masing-masing. BPPT mengembangkan teknologi sederhana untuk mengolah air kotor menjadi air bersih tanpa menggunakan energi listrik. Bagaimana caranya?  Caranya adalah dengan menggunakan alat yang kita namakanTP2AS. Nama ini adalah singkatan dan nama alat-alat yang digunakan.T adalah tangki, Pompa sepeda, P berikutnya adalah Pengaduk A adalah Aerasi dan S nya adalah Saringan.Caranya air yang akan ditampung dalam tangki, kemudian dibubuhkan kapur dan diaerasi dengan menggunakan udara yang dipompa dengan pompa sepeda.

 

Setelah itu ditambahkan bahan kimia kapur dan tawas, diaduk dan diendapkan selama beberapa saat. Bagian atas dari air tersebut dituangkan ke saringan dan dihasilkanlah air bersih. Proses ini berjalan secara batch dan sekali proses bisa sampai 500 liter. Biayanya sendiri sangat ekonomis yakni sekitar 6 juta sudah dapat membangun alat seperti ini.

 

(dari berbagai sumber/humasristek)