Menjalin Kerjasama Antara Pusat Teknologi Lingkungan Dengan Hiroshima Jepang

 

Pusat Teknologi Lingkungan (PTL) dalam rangka menyambut Perdagangan Bebas Asia (MEA), telah mempersiapkan diri dengan melakukan kerjasama melalui kunjungan ke Prefektur Hiroshima Jepang. Kunjungan ini dilakukan dalam rangka memperkuat hasil-hasil inovasi dan sumberdaya manusia yang sangat diperlukan dalam era MEA tersebut.

 

Bidang-bidang lingkungan yang akan ditindak lanjuti sesuai dengan MOU yang sudah di sepakati antara lain:

  1. Training/capacity building: Melalui bidang ini kemampuan dan ketrampilan sumberdaya manusia dalam bidang teknologi lingkungan akan ditingkatkan

  2. Knowladge sharing, product information sharing: Melalui bidang ini akan diperoleh informasi pasar berkaitan dengan teknologi lingkungan guna memenuhi kebutuhan pasar,  baik untuk lokal maupun global.

  3. Riset pengembangan bersama: Melalui bidang ini akan dikembangkan suatu produk melalui peningkatan hasil-hasil inovasi teknologi lingkungan.

  4. Pelayanan  technologi: Memperluas spektrum pelayanan teknologi sesuai dengan kebutuhan bidang lingkungan.

Gubernur Hiroshima ketika menerima tim dari Pusat Teknologi Lingkungan bersama Bapak Deputi TPSA juga memberikan kesempatan untuk meninjau dan mengunjungi obyek-obyek yang berkaitan dengan teknologi lingkungan yang sudah dikembangkan Jepang. Lokasi-lokasi yang dikunjungi adalah:

  1. Instalasi Pengolahan Air Limbah Perkotaan Hiroshima (Otagawa Gesui Shorijo), Secara keseluruhan, air limbah domestik di propinsi Hiroshima yang diolah secara komunal adalah sebesar 72,0%. Sisanya sekitar 28,0% diolah secara individual  dilokasi setempat, karena terlalu jauh untuk dilairkan ke lokasi STP komunal. Total pengolahan air limbah kumonal ini sedikit dibawah angka nasional Jepang yang sudah mencapai 77,6%. Otagawa Gesui Shorijo dibangun pada tahun 1983 dan mulai beroperasi tahun 1988.Lahan yang ditempatinya merupakan area hasil reklamasi laut. Otagawa Gesui Shorijo memiliki total kapasitas sebesar 148.380 m3/hari, terdiri atas 2 line  yaitu Line 1 disebelah Timur berkapasitas 98.400 m3/hari dan Line 2 di sebelah Barat berkapasitas 49.980 m3/hari. Sistem pengolahan air limbah menggunakan Conventional Activated Sludge Process dengan kombinasi saringan karbon pada tahap akhir untuk lebih meningkatkan kualitas air olahan. Tahap-tahap pengolahan air limbah meliputi proses sedimentasi awal untuk mengendapkan padatan yang ikut mengalir bersama air limbah, selanjutnya proses lumpur aktif untuk untuk menguraikan (degradasi) polutan organik dalam air limbah dan terakhir pengenpan akhir untuk memisahkan mikroba dengan air olahan. Bila dihitung, waktu yang dibutuhkan untuk pengolahan dari awal sampai akhir sekitar 20 jam. Air olahan, sebagian yaitu sekitar 8% didaur ulang, digunakan untuk flushing toilet, siram taman dan pencucian mesin. Juga diinformasikan, biaya pengolahan air limbah domestik disini sekitar 40 yen/m3 atau sekitar Rp 5.000,-/m3 air limbah. Sludge atau lumpur organik dari bak-bak pengendap, selanjutnya diolah dengan proses anaerobic treatment atau proses fermentasi metana pada reaktor (digester) berbentuk silinder. Reaktor tipe ini cukup popular karena memiliki kelebihan, antara lain memudahkan proses pengadukan untuk memperluas kontak mikroba dengan polutan dan dapat meminimalkan ruang mati (dead space) didalam raektor. Disamping itu juga mudah dalam perawatan.Disini, waktu yang diperlukan untuk mengolah sludge masih lama, sekitar 30 hari pada suhu sekitar 35 oC (mesophilic condition).Sludge sisa dari reaktor anaerob, diproses pada unit dehydrator berupa belt press untuk menurunkan kadar airnya. “Cake” hasil belt press, selanjutnya dikirim ke pabrik semen untuk manfaatkan dan juga sebagian dipakai untuk bahan baku pupuk organik (kompos).Biogas hasil degradasi sludge, mengandung gas metana sekitar 60%, digunakan sebagai bahan bakar gas pembangkit listrik pada generator.Produksi biogas sekitar 9.500 m3N/hari.Mesin generator yang digunakan adalah tipe Rotary Engine Biogas Generation, buatan Mazda. Otagawa Gesui Shorijo memiliki 9 unit generator dengan total electric generation capacity 360 kW.

  2. Instalasi pengolahan sampah menjadi listrik (Hiroshima City Asaminami Incineration Plant). Asaminami Incineration Plant adalah salah satu fasilitas incinerator pengolah sampah di Kota Hiroshima.  Incinerator tersebut didisain dan dikonstruksi oleh JFE Engineering di atas tanah seluas 3,8 hektar.Pembangunannya dimulai pada Juli 2009 dan selesai pada Maret 2013. Kapasitas olah incinerator tersebut sebesar 400 ton/hari, yang di dalamnya terdiri atas 2 line (@200 ton/hari). Tipe incineratornya adalah sistem stoker dengan suhu pembakaran hingga 850 C. Panas yang dihasilkan dipergunakan untuk membangkitkan listrik  dengan metode steam turbin yang maksimum kapasitas produksi listriknya 10, 7 MW. Emisi gas dari incinerator diolah dengan dry activated carbon, bag filter, wet type harmfull gas removal device, dan denitrification tower.  Limbah cairnya diolah dan didaur ulang untuk dipergunakan kembali.Fasilitas utama Asaminami Incineration Plant meliputi fasilitas penerimaan sampah (jembatan timbang, platform dan refuse pit), fasilitas pembakaran (furnace, stoker, gas cooling boiler), fasilitas pengolah emisi gas (dry activated carbon, bag filter, wet type harmfull gas removal device, dan denitrification tower), fasilitas penanganan abu (ash pit kneading machine), control room, dan fasilitas pemanfaatan panas menjadi listrik.Dengan kapasitas 400 ton/hari, biaya investasinya sekitar 1.3 triliyun rupiah dan bioya O&M sekitar 1,5 juta rupiah per ton. Kandungan lokal sekitar 50%.

  3. Hiroshima gas (Hiroshima GasTechno Service (HGS) Co., Ltd). Perusahaan HGS ini telah berhasil mengembangkan peralatan berbasis teknologi pirolisis untuk memproduksi semi-coke dan char dari limbah organik dan biomassa.Peralatan tersebut dinamakan Antler Kiln. Staf teknis dari HGS memaparkan keunikan dari Antler Kiln, dimana limbah organik dan biomassa di karbonisasi tanpa udara dengan pemanasan secara tidak langsung (290 deg.C)yang berasal dari pembakaran by-product gas dan tar menghasilkan produk seperti semi-coke dan char. Kandungan air bahan umpan untuk antler kiln harus di bawah 15% untuk menjaga komposisi nyala (flame) dari gas dan tar. HGS juga memiliki test Dryer yang dapat mengeringkan material dengan kapasitas 50kg/jam dan continuous pyrolisis test kiln dengan kapasitas 20-30 kg/jam.Selain itu, fasilitas uji pilot plant automobile sredder residue (ARS) berukuran diameter 1.6m dan panjang 12m yang mengolah limbah kendaraan (mobil) berkapasitas 1 t/jam. Dalam kunjungan tersebut, tim BPPT mendiskusikan kemungkinan teknologi antler kiln untuk pengolahan sampah perkotaan. Namun, berdasarkan data karakteristik sampah di Indonesia, jika diaplikasi teknologi ini diperlukan biaya pengolahan yang relatif tinggi. Beberapa bahan baku yang telah di uji dengan peralatan ini adalah sludge limbah kertas untuk soil conditoner (Cap. 6500 kg/jam), limbah karet (Cap. 140 t/bulan). HGS saat ini, sangat tertarik untuk mengolah limbah palm kernel shell (PKS) dan upgrading batubara muda untuk mengurangi polusi lingkungan.

  4. Musium Mobil Masda (Museum Mazda (Mazda Motor Co.). kunjungan dilakukan tour untuk melihat dari dekat sistem produksi mobil mazda yang menjadi kebanggaan kota Hiroshima dan sistem instalasi pengolahan air limbah industri kendaraan.

Kerjasama dengan Berbagai Perusahaan Jepang

 

HITACHI ZOSEN (HITZ)- Hitachi Zosen (Hitz) adalah salah satu perusahaan yang mendesain, mengonstruksi, dan pemilik teknologi incinerator di Jepang. Diskusi diawali dengan presentasi Hitachi Zosen (Hitz) tentang Incinerator yang ditujukan untuk membakar sampah dengan nilai kalor rendah (sekitar 1300 kCal/kg, seperti sampah DKI Jakarta).Untuk meningkatkan nilai kalor sampah, Hitz mengusulkan cara lama yaitu dengan memperpanjang instalasi stoker, terutama untuk drying grate. Kemudian untuk menekan biaya investasi dilakukan penghematan instalasi alur pengolahan emisi gas, tetapi dengan tetap memperhitungkan baku mutu emisi Indonesia. Investasi pembangunan incinerator dengan kapasitas 1000 ton/hari sebesar 1,3 triliyun. Tipping fee yang dikutip sebesar 560 ribu rupiah/ton.

 

Kemudian terkait dengan diskusi kerjasama dengan BPPT, berikut ini adalah hasilnya:

LABOTEC Hiroshima- Labotec adalah perusahan yang memproduksi peralatan analisis lingkungan seperti uji atmosfir, uji air minum, uji kualitas air, tanah, dll. Perusahan ini juga memiliki divisi teknis dan sertifikasi. Dalam pertemuan ini, tim BPPT mendiskusikan skema kerjasama dalam mendukung kegiatan-kegiatan BPPT PTL ke depan dalam pelatihan sertifikasi laboratorium dan capacity building. Namun, masih dirasa masih perlu penjajakan lebih lanjut bentuk kerjasama yang paling memadai untuk kedua belah pihak.

 

HINOMARU SANGYO- Saat ini, Hinomaru Sangyo Co., Ltd bersama BPPT PTL telah memulai kerjasama pengembangan produk purifikasi air tambak udang. Pengembangan produk ini dilakukan di Sekolah Tinggi Perikanan (STP) Serang yang melibatkan staf pengajar dan mahasiswa STP dibawah pengawasan dan koordinasi BPPT PTL. Dimana, STP Serang merupakan lokasi percontohan sistem budidaya udang yang ramah lingkungan.Untuk itu, telah dibangun dua buah kolam pengujian berukuran 4x10 m yang diisi masing-masing dengan 8.000 ekor udang jenis vannamei.Pengujian dilakukan dengan membandingkan kolam yang diperlakukan secara konvensional dan kolam yang berikan produk purifikasi dari Hinomaru Sangyo.Pengujian masih berlangsung dan diharapkan dapat mengurangi biaya produksi pertambakan udang dan relatif lebih ramah lingkungan.

 

Kunjungan Kepada Mahasiswa Indonesia di Universitas Hiroshima

 

Pertemuan dengan Prof. Akiyoshi Ohashi di departemen civil dan environment, dimana salah satu staf PTL, Ahmad Shoiful, sedang melaksanakan tugas belajar program doktoral. Pertemuan ini juga dihadiri mahasiswa-mahasiswa lain yang berasal dari BPPT. Dilakukan kunjungan untuk melihat fasilitas di laboratorium. Penempatan staf PTL untuk tugas belajar di Hiroshima University merupakan salah satu implementasi kerjasama BPPT PTL dengan Pemerintah Hiroshima dalam peningkatan kapasitas SDM (editor: Haryoto Indriatmoko, Sumber Dr. Ir. Rudi Nugroho, M.Eng)