BPPT Dorong Mitigasi Emisi Sektor Industri

 

Jakarta - Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) mendorong mitigasi emisi gas rumah kaca (GRK) di sektor industri. Hal ini seiring dengan komitmen Indonesia menurunkan emisi karbon 29 persen hingga tahun 2030.

Direktur Pusat Teknologi Lingkungan BPPT, Rudi Nugroho, mengatakan, sejumlah negara berupaya menekan peningkatan laju suhu di bawah 2 derajat celcius. Oleh karena itu, kata dia, salah satu upaya yang dilakukan adalah bagaimana mengurangi emisi dari sektor industri dari sisi penghematan energi.

 

 

"Pemakaian energi akan terkonversi ke berbagai emisi gas. Dengan melakukan penghematan, emisi juga akan terhemat," katanya di sela-sela Workshop Produksi Bersih dan Peningkatan Efisiensi Energi untuk Industri di Indonesia, di Jakarta, Kamis (13/10).

 

Untuk mendorong mitigasi GRK, lanjut dia, BPPT sudah melakukan audit teknologi dengan menggandeng The Energy and Resource Institute India. Audit dilakukan pada 4 industri besi baja yakni PT Krakatau Wajatama, PT Bhirawa Steel, PT Ispat Bukit Jaya dan PT Hanil Jaya Steel. Industri besi dan baja dipilih karena lahap energi dalam proses produksinya.

 

"Kajian ini, menghasilkan indentifikasi efisiensi energi pada beberapa peralatan maupun proses seperti reheating furnace, kompresor, pompa, lampu, sistem sirkulasi air, serta sistem kelistrikan," tambahnya.

Rudi menjelaskan, dari kajian tersebut diidentifikasi peluang penghematan energi yang dapat dilakukan industri sebagai rekomendasi aksi efisiensi energi, penurunan biaya produksi dan pada akhirnya berdampak pada peningkatan daya saing industri.

 

"Kalau ini sudah berhasil maka kita garap teknologi dan efisiensi energi untuk industri-industri lainnya," ucapnya. Kepala Seksi Penerapan Teknologi Industri Badan Litbang Industri Kementerian Perindustrian (Kemperin), Deni Noviansyah, mengungkapkan, selain industri besi dan baja, industri lain yang juga lahap energi yakni semen, pupuk, petrokimia, makanan, keramik, tekstil, pulp dan kertas.

 

"Sektor industri di dunia juga bergerak dalam revolusi industri baru. Upaya yang dilakukan yakni dengan memaksimalkan teknologi modern dalam proses manufaktur yang efisien dan ramah lingkungan," kata Deni.


 

Sumber : beritasatu.com